Pemkot: Distan Ternate Sertifikasi 5.200 Petani

Ternate – Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate, Maluku Utara (Malut) melalui Dinas Pertanian (Distan) Ternate menyebut, sebanyak 5.200 petani yang tersebar di Kota Ternate telah disertifikasi dan masuk sistem informasi penyuluhan dan petani.

“Dari 5.200 petani itu mereka masuk melalui 208 Gabungan Kelompok Tani telah disertifikasi dan masuk sistem informasi penyuluhan dan petani,” kata Kadis Pertanian Kota Ternate, Thamrin Marsaoly di Ternate, Jumat.

Selain itu, kata Thamrin, untuk petani yang tercatat di Kota Ternate, tidak seluruhnya aktif karena mereka yang bermukim di Kota Ternate sebagai kota jasa, sehingga sebagian petani saat belum datang musim panen memilih untuk beralih profesi untuk mendapatkan keuntungan memadai.

Dia menyebut, sedikitnya 1.000 lebih petani yang saat ini memiliki komitmen untuk memfokuskan diri dalam mengembangkan usaha pertanian dan perkebunan cengkeh serta pala menjadi harapan untuk mendapatkan pendapatan yang tinggi.

“Oleh karena itu, ini suara dari daerah ke pemerintah pusat, agar dapat merestorasi lahan-lahan seperti petani pala dan cengkeh di daerah agar kebutuhan petani bisa terealisasi,” kata Thamrin yang dikenal dekat dengan kalangan wartawan tersebut.

Selain itu, Thamrin menyatakan, ada 50 hektar aspek kepemilikan jelas, sehingga Pemkot Ternate telah take over, bahkan, ada 4 sampai 6 hektar tanah yang dibeli Pemkot Ternate untuk dikembangkan petani setempat, meskipun ketersediaan tanah di Ternate sangat terbatas.

Pemkot Ternate dalam beberapa tahun silam telah membeli lahan pertanian seluas 3 hektar digunakan untuk pengembangan agrowisata di kawasan Loto, sehingga kalaupun ada kucuran dana melalui DAK maka bisa dimanfaatkan untuk pengembagan petani lokal di Ternate.

“Rencananya tahun 2022 Pemkot Ternate akan mendapatkan dana sebesar Rp2 miliar sampai Rp3 miliar bisa terwujud,” ujarnya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Agustus 2021, Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Malut sebesar 104,15 atau mengalami penurunan 0,37 persen bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 104,53.

Kepala BPS Malut, Aidil Adha ketika dihubungi terpisah menyatakan, secara nasional, NTP Agustus 2021 sebesar 104,68 yang mengalami kenaikan sebesar 1,16 persen dibandingkan dengan NTP bulan Juli 2021 yaitu 103,48.

Adil menyatakan, NTP adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib) dan NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

Sebab, semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli dan petani, karena pada Agustus 2021 lalu, terjadi kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Malut sebesar 0,03 persen dan pada tingkat nasional mengalami penurunan IKRT sebesar 0,05 persen. (Ant)